Archive for April, 2006

My Confession about English Day

Sunday, April 23rd, 2006

English
Talking about English Day in my period, I want to make confession that I was not a good speaker during the English Day. I rarely used English when I talked with my friends and my seniors, because I thought it was not so necessary to do, and I saw my other friends and seniors just did the same as I was.

I wasn’t brave enough to start speaking in English. I just spoke when anybody started speaking in English. I felt my English was not good enough, even though I knew some words in English, but I still felt too shy to start speaking in English.

I think now it was a bad habit. So I think we have to improve this condition, so it will never be happened again in next time. I start to find some fact about situation of English Day in our school nowadays. One say it’s just the same when last time I was there. There’s nothing new about English Day execution in our school. What a surprise. Next year, we will have an international school, but the condition of English usage in our school is still poor.

I think we can learn from Gontor, which is a modern pesantren with a good teaching of English and Arabic as their foreign languages. There, you can find that English are not just taught by the teachers, but also applied in their daily activities as a skill. So at the end of education, the graduates can master English as a skill, not just knowing the right grammar and vocabularies, but also can use it to write and to talk. They can also give a speech in English, as well as in Bahasa Indonesia and Arabic.

To be able to master English, I think we have to be consistently speaking and practising English in English Day. No one is allowed to speak in other languages during English Day. Teachers have to push students to talk in English and nobody is allowed to laugh at someone else’s mistake. Learning from Gontor, they also using English alldays during the English Day. So they are not just using English in dining room, but also in their daily activities from 0 - 24. They even have to dream in English :)

Maybe it’s not so easy. One has to see the English ability of each student and to improve them properly. One also has to control the English usage during the English Day. If there’s no control, I think whatever a good plan will be nothing.

Well, I think we are now so far from our school. But I think we can still give our contribution by giving some guidance to the students and the teachers to be brave enough to start talking in English. Anyone who wants to join please come to Panduan Berbahasa Inggris, and give your contribution by adding or editing some new tips or expressions.

So, anyone else who also want to make confession?

Mengembangkan Kurikulum Sekolah secara Bijak

Saturday, April 8th, 2006

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat tawaran dari seorang rekan untuk turut membantu proses perubahan sebuah sekolah nasional menjadi sekolah nasional bertaraf internasional (SNBI).

Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan membahas sedikit tentang SNBI. SNBI adalah gagasan dari pemerintah Indonesia yang didasari atas adanya tren kebutuhan masyarakat Indonesia yang saat ini tengah gandrung dengan pendidikan luar negeri. Banyak orang tua yang ingin anaknya dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri, sehingga dari awal sudah menyekolahkan anaknya di luar negeri, atau paling tidak menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah internasional yang saat ini tengah menjamur di Indonesia.

Untuk mengantisipasi terkikisnya jiwa kebangsaan di dalam diri generasi muda, serta menjadi alternatif atas tumbuhnya sekolah-sekolah internasional serta tren menyekolahkan anak ke luar negeri, maka digagaslah SNBI.

Saat ini, beberapa sekolah di propinsi-propinsi di Pulau Jawa telah ditunjuk oleh Depdiknas untuk menyelenggarakan kelas rintisan internasional. Harapannya, dari sekolah-sekolah yang ditunjuk tersebut dapat menjadi SNBI, setelah mendapat evaluasi setelah selang beberapa waktu.

Jika saya lihat, ada upaya penyederhanaan masalah yang dilakukan oleh Depdiknas menyangkut sistem pendidikan nasional Indonesia. Semestinya pendidikan harus dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia, tidak hanya orang-orang yang mampu saja. Semestinya juga, pendidikan di Indonesia juga kompatibel dengan pendidikan di luar negeri, sehingga lulusan SMA di Indonesia dapat dengan mudah melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tanpa harus repot-repot mengikuti pendidikan di sekolah internasional atau SNBI. Namun saya melihat juga, bahwa tingkat kesenjangan pendidikan di Indonesia terlalu jauh, antara kota dengan desa, antara Jawa dengan luar Jawa, antara sekolah yang berkualitas bagus dengan sekolah yang kurang bagus, sementara tantangan persaingan dengan sekolah internasional/luar negeri begitu nyata karena globalisasi dan liberalisasi di bidang pendidikan, sehingga akhirnya Depdiknas memilih untuk mengembangkan SNBI, ketimbang memperbaiki kurikukulum nasional secara keseluruhan.

Yah, barangkali perbaikan kurikulum nasional juga tengah dilakukan, walaupun saya rasa itu tidak lebih mudah daripada mengubah sebuah sekolah menengah yang kualitasnya sudah bagus menjadi sebuah SNBI.

Bicasa soal SNBI, tidak bisa dilepaskan dari kurikulum yang akan menjadi batang penyangganya. Pertanyaannya, akan seperti apakah kurikulum yang akan digunakan oleh SNBI. Depdiknas menyebutkan bahwa kurikulum yang akan digunakan oleh SNBI adalah kurikulum nasional (2004) yang dimodifikasi dengan penambahan penggunaan bahasa Inggris dalam kurikulum serta pemberian materi pelajaran. Pertanyaan berikutnya apakah ini cukup atau dirasa berlebihan, dalam upaya untuk mempersiapkan lulusan Indonesia yang siap untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan bertarung di tingkat global?

Berbagai keluhan selama ini sering diutarakan baik oleh guru, murid, orang tua murid maupun masyarakat Indonesia lainnya dalam menyikapi kurikulum pendidikan nasional yang dirasa terlalu banyak memuat materi-materi pelajaran. Beberapa pakar pendidikan pun menemukan bahwa kurikulum Indonesia lebih padat ketimbang kurikulum negara lain. Jika kita lihat kurikulum negara maju, kurang lebih hanya akan berisi matematika, sains, dan bahasa, sementara pelajaran-pelajaran lain bersifat minor dan opsional. Kurikulum di negara-negara maju lebih menitikberatkan pada upaya pemahaman dan pendalaman materi ketimbang pada upaya pemberian materi sebanyak-banyaknya kepada anak didik. Hal ini menjadi bekal yang kuat, manakala anak didik melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi.

Rekomendasi saya, kurikulum SNBI seharusnya tidak hanya merupakan penerjemahan begitu saja terhadap kurikulum nasional yang ada saat ini, tetapi jika perlu dilakukan reformasi terhadap materi dan cara pengajarannya. Bidang-bidang studi yang ada dapat dirampingkan namun diperkuat dasar pemahamannya, bukan diperbanyak materinya.

SNBI seharusnya bisa menjadi sebuah pilot project yang tepat bagi Depdiknas dalam upaya mengembangkan kurikulum nasional yang lebih baik dan kompatibel terhadap sistem pendidikan di negara-negara lain. Untuk itu inovasi-inovasi dan gagasan yang cerdas harus diijinkan agar SNBI tidak hanya menjadi sekolah nasional biasa tapi pemberian pelajarannya menggunakan bahasa Inggris, namun benar-benar menjadi sekolah yang berkualitas bagus, yang lulusannya mampu bersaing di tingkat internasional. Ini memang bukanlah hal yang mudah, perlu evaluasi yang terus menerus terhadap pelaksanaan kurikulumnya agar jangan sampai terjadi kualitas sekolah jadi menurush setelah sekolah menjadi SNBI, karena siswanya tidak memahami pelajaran yang diberikan oleh gurunya dalam bahasa Inggris.

Sumber:

tentang SNBI

Pak Dirman dan Semangat Juang

Tuesday, April 4th, 2006

Pak_dirmanPak Dirman (Panglima Besar Jendral Sudirman) pernah mengatakan ucapan yang kurang lebih bunyinya begini "
Semakin dekat dengan tujuan, biasanya cobaan semakin besar".

Maksudnya menurut saya, kurang lebih begini. Biasanya, saat mendekati tujuan, kita sering lalai, dan menganggap bahwa semua itu tinggal di depan mata kita, dan dengan sekali langkah kita akan mampu merengkuhnya. Namun justru saat kita lalai tersebut berbagai hal bisa terjadi. Cobaan datang menerpa, musuh/saingan menyerobot kita, cuaca yang tiba2 berbalik memusuhi kita, dll. Makanya kita perlu meningkatkan kewaspadaan justru pada saat2 terakhir kita melihat seakan2 kemenangan di depan mata.

Justru di saat kita merasa bahwa segala sesuatu begitu sempurna, jalan yang diberikan oleh Tuhan begitu baik, kita jadi bertanya2 ada apa dengan semua ini. Beberapa orang dapat menyelesaikannya dengan mudah, beberapa orang justru terjebak dengan pikiran bahwa kemenangan sudah ada di tangan.

Contoh gampangnya misalnya pemain bulu tangkis yang sudah menang 14-1, dan merasa bahwa dengan sekali sabetan dia akan berhasil mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata kondisi berbalik. Si lawan bisa mengejar dengan point 2-14. Si pemain bulu tangkis masih berpikir tenang2 saja, toh si lawan masih ketinggalan banyak. Si lawan mengejar lagi 3-14, begitu seterusnya sampai deuce 14-14. Sampai titik ini, sang pemain baru sadar bahwa pemain lawannya telah berhasil mengejar ketinggalan begitu banyak. Mental pemain lawan semakin naik seiring pertambahan point, sementara mental pemain pertama semakin babak belur.

Untuk mengantisipasi hal2 tersebut di atas, kuncinya adalah mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Semakin kita dekat dengan tujuan, semakin kita dekat dengan kemenangan, justru itulah ujian kita. Apakah kita berhasil menyelesaikan babak pertarungan kita dengan kesuksesan, ataukah kita bakal gagal menyelesaikannya karena lalai atau kurang antisipasi. Semoga tulisan ini bisa jadi refleksi kita bersama.

Pindah ke Friendster?

Sunday, April 2nd, 2006

Aku punya beberapa blog, antara lain di Multiply, Yahoo 360, Hi5, dan Friendster. Salah satu yang belakangan cukup aktif untuk aku isi adalah di Multiply (http://wikan.multiply.com). Alasannya adalah, karena di sana aku bisa menemukan blog2 yang cukup menarik untuk aku baca. Di Friendster ini aku juga bikin blog, tapi sebenarnya iseng doang sih. Menurutku blog2 yang ada di sini kurang menarik, kalah rame dengan yang di Multiply.

Tapi sialnya, belakangan ini si Multiply sering down. Makanya aku jadi gak bisa mengupdate blog-ku, dan jika aku amati fasilitas Multiply yang baru jadi kurang menarik. Temen2 di Multiply juga banyak mengeluh hal yang sama. Jadi mau pindah ke mana nih? Pilihannya sih bisa ke Yahoo 360 atau ke Friendster, kalau ke Hi5 ntar2 dulu deh, di sana komunitasnya dikit. Kalau ke Yahoo 360, fasilitas bloggingnya lumayan menarik, tapi komunitas di sana kurang banyak. Kalau Friendster nih, fasilitasnya menurutku biasa saja, cuman aku punya cukup banyak komunitas di sini.

Well, mungkin untuk beberapa hal aku bisa memuat blog-ku di Friendster. Hmm, yah sudahlah, tiap blog jadi campur2 isinya (padahal awalnya aku pengin bikin hal yang berbeda di tiap blog-ku). He he ..