Potensi Diri
Sunday, April 10th, 2005
Ketika Firman mendengar bahwa dia diterima di salah
satu perusahaan
besar di Jakarta, dia bagaikan kejatuhan bulan.
Semangatnya tinggi
menggebu-gebu. Kepada semua orang dia menceritakan hal
ini. Sungguh hal yang
luar biasa baginya.
Tadinya dia merasa kecil melihat begitu banyaknya
saingan yang
mengikuti seleksi penerimaan karyawan. Mereka semua
tampaknya hebat dan banyak
yang sudah berpengalaman kerja lebih dari lima tahun,
sedangkan Firman
baru memiliki pengalaman setahun lebih.
Hari pertama masuk kerja, dia datang 40 menit lebih
awal. Luar biasa!
Dia akan mulai bekerja di bagian personalia. Mulailah
Firman meniti
karirnya. Minggu kedua, kantor mengadakan acara rapat
kerja bagian
personalia yang diadakan tiap tiga bulan.
Setiap tiga bulan bagian personalia harus melakukan
proses penerimaan
karyawan baru, karena pertukaran karyawan sangat
tinggi terutama di
bagian penjualan. Proses ini meliputi pemasangan
iklan, proses seleksi
calon karyawan secara tertulis, wawancara kerja,
evaluasi, penerimaan,
proses pendidikan karyawan baru dan sebagainya.
Firman mulai bekerja sekitar pukul tujuh tiga puluh
dan selesai pukul
delapan malam, tapi rasanya pekerjaannya tidak pernah
selesai. Bulan
kedua bekerja dia jatuh sakit selama dua hari.
Bulan ketiga dia hampir sakit lagi, untung tidak
parah. Bulan kelima
dia sudah merasa kelelahan. Firman merasa sudah
bekerja mati-matian tapi
hasilnya tidak ada. Sia-sia. Dia pun mulai putus asa.
Dalam keadaan seperti itu dia kemudian ingat Indra.
Indra adalah
temannya sejak kecil. Waktu kecil Indra sangat gemuk
sehingga tidak bisa lari
cepat. Ketika remaja, Indra masih sangat gemuk dan
semakin tidak kuat
berlari.
Suatu hari Indra ditantang oleh guru olahraganya untuk
mengikuti grup
lari marathon karena mereka masih kekurangan orang.
Semua orang mencegah
Indra, semua orang mengatakan bahwa dia bukan calon
pelari marathon
yang baik.
Tapi Indra merasa tertantang. Dia ingin membuktikan
bahwa pandangan
teman-temannya salah. Dia senang dan bersemangat
mengikuti latihan.
Apalagi guru olahraganya bersedia memberikan latihan
tambahan khusus untuk
membantunya. Indra mulai menjalani latihan. Ternyata
tidak mudah. Dia
harus berlatih setiap pagi sebelum sekolah dan malam
hari. Pertama kali
latihan lari seluruh badannya sakit dan keesokan
harinya hampir tidak
bisa berjalan. Untuk jalan sakit, duduk sakit,
bergerak sedikit sakit.
Benar-benar menderita.
Tapi setelah beberapa bulan Indra tidak lagi seperti
itu. Ototnya mulai
semakin kuat. Napasnya semakin panjang. Lemak
ditubuhnya juga berkurang
jauh. Empat setengah tahun kemudian dia menjadi pelari
marathon yang
tangguh.
Mulai menikmati
Semangat Firman yang mulai kendor segera meningkat
lagi ketika dia
ingat tentang perjuangan Indra. Segera dia menetapkan
hatinya lagi untuk
melatih dirinya. Dia sadar bahwa tujuannya bekerja
adalah untuk meniti
karir, bukan untuk santai atau bekerja malas-malasan.
Berbulan-bulan dia membiasakan dirinya untuk tetap
mulai bekerja pukul
tujuh tiga puluh pagi dan pulang pukul delapan malam.
Dia tidak
main-main dengan waktu. Orang lain pulang malam karena
menunggu agar jalanan
tidak macet lagi sehingga mereka menunggu sambil
ngrumpi, atau bergosip.
Tapi Firman pulang malam karena bekerja. Lama kelamaan
cara kerjanya
tidak lagi terasa berat. Dia mulai menikmatinya. Semua
orang menjulukinya
sebagai setan kerja, tapi Firman tetap dengan
kebiasaan kerjanya. Dia
merasakan staminanya meningkat. Dia tidak sering sakit
lagi seperti
dulu.
Untunglah Indra membantu memberikan nasehat agar tidak
meninggalkan
olah raga. Setiap Sabtu dan Minggu, Firman ikut Indra
ke Gelora Senayan
untuk ikut lari pagi. Memang sekarang Indra bukan lagi
pelari marathon
karena sudah bekerja. Tapi setiap pagi dia masih
melakukan kebiasaannya
lari pagi selama satu jam sebelum berangkat ke kantor.
Dua bulan yang lalu Firman dipromosikan sebagai junior
manager. Firman
berniat tidak akan mengubah kebiasaan kerjanya. Dia
ingin memberi
contoh kepada semua orang terutama kepada karyawan
baru bahwa bekerja lebih
giat pasti ada hasilnya.
Bahkan sekarang sudah ada empat orang yang mulai
mengikuti jejaknya dan
dapat merasakan kepuasan bekerja mereka meningkat.
Firman berhasil membuktikan pada dirinya bahwa jika
memiliki niat dan
melakukannya, maka akan terasa lebih ringan dan lebih
mudah,
dibandingkan dengan bekerja karena terpaksa.
Beberapa orang yang malas berkata bahwa meskipun
rajin, toh gajinya
tidak naik. Tapi Firman tidak mau menanggapinya. Dia
yakin bahwa jerih
payahnya tidak akan sia-sia. Mungkin untuk suatu saat
tertentu
kelihatannya seakan-akan tidak ada gunanya, tapi dia
memiliki pandangan bahwa
kerajinannya tidak ditentukan oleh besarnya gaji. Dia
rajin karena ingin
rajin. Titik!
Firman tidak mau keadaan mengaturnya sehingga dia
kehilangan kebiasaan
baiknya. Tidak peduli apapun yang terjadi, apakah ada
atasan atau
tidak, dia tetap rajin. Tidak peduli apakah ada
kenaikan gaji atau tidak,
dia tetap rajin. Kerajinannya ditentukan oleh dirinya
sendiri. Be
Professional! Work Because You Want To! Not Because
You Have To!
(thanks to Khrisna)